Minggu, 20 November 2011

Spring for Novel Chapter 2: When I Look at You


Spring for Novel


Disclaimer :

Spring for Novel © VM Dark Shadow

Rated : Teen

Chapter 2 : When I Look at You

Warning : OC, Gaje, EYD berantakan, Typo

Summary : Di bulan Februari, Valentine. bulan Desember, Natal. bulan Oktober, Halloween. bulan Maret, White Day. Sedangkan Di bulan Mei ada apa? Hey jangan lupa dibulan Mei ada Festival dan Musim Semi. “Oh.. musim semi ya–sepertinya menyenangkan.”

Enjoy it
.
.
.

Bulan Mei–bagi banyak orang–adalah bulan yang panjang. tidak ada hal yang mencolok dari bulan ini, sebenarnya. Hanya saja dibulan ini kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyebalkan, seperti ulangan semester dan lembur kerja. Oh dan jangan lupa dengan Musim Semi-nya.

Ah.. iya, musim semi. mana ada orang yang membenci musim semi, kau tahu kan musim semi itu damai, indah dan–hey! Kita akan menceritakan kisah seseorang, kau tahu? Bukan–Musim–Semi.

Oke cukup, Lupakan tentang bulan Mei atau pun Musim Semi. Yep, kita akan menceritakan tentang seorang gadis dengan seorang lelaki dan juga musim semi mereka…

-Spring for Novel-


Seorang lelaki berparas rupawan bernama Alffario Davison tengah duduk di kursi yang terlihat mewah, membaca buku lusuh yang tebal. Tidak, ia tidak membaca buku itu. Ia hanya membolak-balik halaman demi halaman buku tersebut dengan asal. Pikirannya melayang ke peristiwa yang telah lalu.

Ia tidak percaya, tiba-tiba saja ia berada di tempat yang asing. Dunia yang asing, ini bukan dunianya. Dunia di tempat ia seharusnya berada bukan di sini dan tidak seperti ini.

Ia bingung dan merasa dipermainkan. Alffa ingat betul kalau waktu itu dia sedang berada di ruang kerjanya yang nyaman sambil memejamkan mata menikmati keheningan di ruangan itu dan tertidur. Lalu tiba-tiba saja ketika ia bangun, ia sudah berada di tempat seperti ini. bukan di ruang kerjanya.

Apakah ia hanya bermimpi? Ketika ia bangun, ia sudah berada di dalam kamar megah nan mewah. Dan yang lebih anehnya lagi, semua pelayan memanggilnya dengan sebutan ‘Pangeran’. Ayolah, yang benar saja.

Alffa masih terlalu waras untuk beranggapan kalau kejadian ini adalah sebuah kenyataan. Ini hanya bunga tidur, “Ini hanya mimpi Alffa! Tenanglah.” gumamnya pada diri sendiri. Tapi, sejak kapan mimpi bisa senyata ini.

Otak cerdasnya berpikir keras dan sampai pada akhirnya ia memvonis dirinya sendiri kalau ia–seorang Alffario Davison telah mengalami gangguan kejiwaan. HORE! Orang-orang yang membencinya pasti girang jika mengetahui kalau si–mulut–tajam–Alffario menjadi gila.

Tapi–hey, dari pada tidak mempercayai apa yang telah terjadi, lebih baik pura-pura percaya saja, bukan?. Anggap saja ini sebuah permainan. kau–Alffa berperan menjadi pangerannya. Hanya main-main, Kau suka bermain-main, kan Alffa?. Ini akan menjadi sangat menarik.

“Tck, baiklah. Tidak buruk juga.” Alffa akhirnya memutuskan. Diletakannya buku tebal lusuh itu dengan asal. Bola matanya yang bewarna Hazel gelap itu melirik gadis yang tengah tertidur lelap di sampingnya.

Gadis ini benar-benar merepotkan. Alffa menemukan gadis ini tengah pingsan di halaman kerajaan dan membawanya masuk ke dalam istana, dan sekarang ia kembali pingsan saat Alffa sedang memperkenalkan dirinya sendiri.

“Gadis ini kenapa suka sekali pingsan sih, merepotkan saja.” Geramnya, untung saja Alffa masih mempunyai sifat pri kemanusiaan–walaupun sedikit. Sejujurnya alffa benci tipe gadis merepotkan seperti dia. Tapi yah.. mau bagaimana lagi.

“Bersyukurlah kau, aku masih punya hati nurani.” Gumamnya pada gadis yang sedang tertidur tersebut. Hey! Alffa menyadari sesuatu, gadis ini mirip sekali dengan si Camelle bodoh itu. Ah benar, tadi juga gadis ini memperkenalkan dirinya sebagai Camelle Vincent. Ternyata dia benar-benar si bodoh Camelle.

Alffa mulai mengerti sekarang. Mereka –Allfa dan Camelle– terjebak bersama di negeri antah berantah ini. Kalian dengar? Bersama. Lebih tepatnya berdua. Biar ku eja BER-DU-A!

"INI GILA!!" Geram Alffa frustasi.

Wah-wah sepertinya kalian berjodoh. Tapi, jika Alffa menjadi pangerannya berarti Camelle yang menjadi penyihirnya. Lagi pula tadi para pelayan memanggil Camelle dengan sebutan ‘Nona penyihir’ kan. Tak salah lagi.

“Ughhhh..” Sebuah erangan menyadarkan Allfa dari lamunannya. Dengan gerakan cepat Allfa berjalan menuju ranjang tempat Camelle berada. “Kau sudah sadar?” tanyanya pelan.

“Apakah aku sekarang sedang berada di surga?” bisik gadis bernama Camelle itu dengan pelan, tapi Alffa masih dapat mendengarnya.

“HAHAHAHA.. B-O-D-O-H!” Sontak Alffa tertawa saat mendengar gurauan gadis itu, “Apa katamu tadi? Surga? Dasar tolol.” Tambahnya lagi. Dia heran, ternyata ada ya, orang sebodoh itu di dunia ini? Ada-ada saja gadis ini.

Camelle yang menyadari kalau ia sedang ditertawakan itu menggembungkan pipinya dengan kesal. Sial, ia menyesal telah mengatakan kata-kata itu tadi. Tadinya ia berpikir kalau ia sudah mati. Dan ketika membuka matanya, ia melihat pemuda tampan berada di sampingnnya.

Jadi, bukan salahnya kan kalau ia merasa berada di surga. Lagi pula mana ada pemuda tampan di dalam neraka. Dia pikir pemuda itu adalah malaikat pelindung yang akan menuntunnya menuju surga.

Tapi ternyata pemuda itu adalah–ughh ia tak mau menyebut nama pemuda menyebalkan itu. “Sudah. Berhentilah tertawa! kenapa Kau suka sekali sih menertawakan orang lain, menyebalkan!” gerutunya.

“Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menertawai kebodohanmu.” ucap Alffa disela-sela tawanya. “Kau bodoh sekali.” bisa-bisanya dia berpikir kalau ia berada di surga. Gadis yang polos atau mungkin terlalu bodoh, hahaha lucu sekali. pikirnya.

“bersyukurlah kau, untung wajahmu tampan. Kalau tidak orang-orang pasti sudah mengenyahkanmu dari dulu.” Cemooh Camelle.

“Hn. Berarti aku ini tampan, eh?”

“Tidak! Kata siapa?”

“Barusan, kau sendiri yang bilang aku tampan.”

“A… Akk.. Aku salah bicara, k-kau jangan besar kepala ya!” ucap Camelle gelagapan. Wajahnya terasa panas. Ia berani bertaruh kalau wajahnya sekarang sudah semerah buah tomat.

“Wow. Wajahmu merah sekali.” Alffa menyeringai setelahnya. “Jujur saja padaku, Kau tertarik padaku kan?” goda Alffa kepada Camelle. Didekatkannya wajahnya ke wajah Camelle hingga berjarak sekitar lima atau enam senti dari wajahnya.

OH MY GOD! Ini sangat dekat, ini sangat dekat. Camelle merasakan kalau tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Sial! Sial! Sial! Kalau begini ketahuan sudah kalau Camelle menaruh rasa pada pemuda di depannya.

Pemuda yang sedang menatapnya dengan tajam. Dari matanya tersirat kalau pemuda ini mempunyai sifat sombong dan angkuh. Tapi Camelle suka dengan bola mata pemuda itu. Berbeda dengan mata-mata yang lain, mata yang ini kelam, dan sosoknya yang sempurna seperti Casanova.

Alffa mengamati ekspresi gadis yang di hadapannya sambil menyeringai.
‘Kena kau!’ ucapnya dalam hati. Tentu saja, pemuda ini memang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Ia yakin kalau semua wanita akan terpesona dengan semua keelokan yang ia punya. Termasuk gadis yang berada di hadapannya.

DEEEEEGGGGGGG!!

Tiba-tiba saja Alffa tercengang saat melihat mata gadis di depannya. Alffa tidak tahu kalau ada mata seindah ini di dunia. Mata yang sangat menawan, mata itu sewarna dengan batu Emerald. Yeah. Emerald adalah batu yang sangat disukai oleh Dewi Veus dan Ratu Cleopatra. Dan gadis itu memilikinya. Di bola matanya.

DEG …

DEG …

DEG …

Kini giliran Alffa yang merasakan kalau tubuhnya kaku. Perutnya terasa tergelitik, ia merasa ada banyak Cupid-Cupid di dalam perutnya sedang menari-nari bahagia. Oh tidak! Sekarang ia merasa kalau sang Cupid kini berada di dalam dadanya yang membuat napasnya menjadi tidak karuan dan jantungnya berdebar-debar kencang.

Ternyata hanya dengan menatap gadis berparas bagaikan Cleopatra di depannya saja sudah memacu adrenalin-nya naik. Ia merasa keringat dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya. SIAL! Ia harus menghentikan ini segera, jika tidak ia akan merasa kalah dari gadis ini. Harus dihentikan. HARUS!

Dengan cepat Alffa menarik tubuhnya menjauh dari Cemelle. Camelle bingung dengan tindakan Alffa yang tiba-tiba, ‘Ada apa sih dengan cowok ini? Dasar abnormal’ batinnya. Sebenarnya Camelle sedikit merasa–kecewa– ketika Allfa menjauhkan diri darinya, entah kenapa.

“Kau kenapa?” Camelle memberanikan diri untuk bertanya.

“Tak apa.”

“Wajahmu pucat. Apakah kau sakit?”

“Aku baik-baik saja.”

“Tapi–”

“Sudah kubilang aku baik-baik saja!!” bentaknya. Camelle sangat terkejut ketika Allfa membentaknya. Alffa sendiri tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan, Kepalanya terasa sakit. ‘Tak berguna!’ amuknya dalam hati. Brengsek. Otak cerdasnya tidak bisa berpikir sedikitpun.

Dilain sisi dia merasa bersalah karena telah membentak Camelle. Sungguh ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya kesal kepada dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol emosinya saat berhadapan dengan gadis ini. Ia merasa aneh. Hello, seumur hidupnya ia tak pernah merasa sekacau ini. Ia adalah Casanova. Gadis manapun akan tahluk dihadapannya. Tapi kenapa..

“Sebaiknya kita harus berjaga jarak”

“Memangnya kenapa?”

“Apa kau lupa, aku pangeran dan kau penyihir. Dan kita sedang berada di dalam novel yang kau buat yang dimana–” Alffa menarik napas panjang dan berhenti sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.

 “–Yang dimana Pangeran dan penyihir tidak dapat bersatu.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alffa berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan tempat Camelle berada.

Camelle memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya bisa terasa begitu sakit. Yang ia tahu, dadanya mulai terasa sakit saat Alffa mengatakan kalimat ‘Tidak dapat bersatu’.

Dan untuk yang pertama kalinya dalam hidupnya, ia–Camelle Vincent membenci karya yang ia buat sendiri. Karena di dalam novel yang ia buat, Pangeran dan penyihir tak akan pernah bersatu … Selamanya.


Alffa berjalan pelan. Menjelajahi seluk beluk Istana Aqquare Aster yang luas dan megah. Matanya yang biasanya tajam dan suka memandang rendah orang lain kini terlihat sedikit sendu. Pikiranya berkeliaran meninggalkan raganya.

Kejadian beberapa jam yang lalu, ia masih mengingatnya dengan jelas. Dimana pertamakali dalam hidupnya ia terpesona pada seorang wanita. Sial, kalau begini jadinya, ia tak akan bisa bermain-main dengan gadis itu.

Apakah ia telah jatuh cinta? TIDAK MUNGKIN! Tak mungkin orang yang suka bermain-main seperti Alffa jatuh cinta. Hahaha jangan membuatku tertawa. Walaupun Alffa jatuh cinta, harus gadis itu yang lebih dulu menyatakan perasaan kepadanya. Hah, harga diri seorang Alffario Davison memang sangat tinggi.

Yeah, sudah ditetapkan. Sebelum gadis itu mengatakan perasaannya kepada Alffa, Alffa tidak akan jatuh hati kepada gadis itu. Ia tak akan jatuh cinta kepada gadis itu.

Hn, yah.. kita lihat saja nanti Alffa. Tapi sepertinya sang Pangeran–Alffario mulai tertarik kepada sang Penyihir–Camelle.


Dan Casanova sepertinya mulai tahluk oleh Cleopatra …



.
.
.
.

TO BE CONTINUED

CHAPTER TWO END


Light is one choice…

Darknessis the other…




VM Dark Shadow
(14-11-2011)





Spring for Novel


Disclaimer :

Spring for Novel © VM Dark Shadow

Rated : Teen

Chapter 1 : Meet You in Spring

Warning : OC, Gaje, EYD berantakan, Typo

Summary : Di bulan Februari, Valentine. bulan Desember, Natal. bulan Oktober, Halloween. bulan Maret, White Day. Sedangkan Di bulan Mei ada apa? Hey jangan lupa dibulan Mei ada festival dan Musim Semi. “Oh.. musim semi ya–sepertinya menyenangkan.”

Enjoy it
.
.
.

Bulan Mei–bagi banyak orang–adalah bulan yang panjang. tidak ada hal yang mencolok dari bulan ini, sebenarnya. Hanya saja dibulan ini kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyebalkan, seperti ulangan semester dan lembur kerja. Oh dan jangan lupa dengan Musim Semi-nya.

Ah.. iya, musim semi. mana ada orang yang membenci musim semi, kau tahu kan musim semi itu damai, indah dan–hey! Kita akan menceritakan kisah seseorang, kau tahu? Bukan–Musim–Semi.

Oke cukup, Lupakan tentang bulan Mei atau pun Musim Semi. Yep, kita akan menceritakan tentang seorang gadis dengan seorang lelaki dan juga musim semi mereka…

-Spring for Novel-


Seorang gadis duduk di bingkai jendela. Rambut pirang sebahunya melambai-lambai tersapu angin. Tangan mungilnya memegang sebuah map coklat yang didapatnya dari petugas pengantar surat. Sungguh, perasaannya jadi tidak enak saat melihat siapa pengirim map coklat tersebut.

Dilihatnya isi map tersebut dengan dahi yang berkerut dan mulai membacanya. Tiba-tiba saja iris mata berwarna Emerald–itu terbelalak lebar.

“Maaf, kami menolak naskah yang telah anda kirimkan kepada kam–hey!! Apa maksudnya ini? Tck.. Sial!” geram Camelle Vincent–nama gadis itu.

Sial! Selalu saja seperti ini, naskah buatannya selalu saja ditolak oleh para penerbit. Memangnya apa kekurangan dari naskah yang ia buat sehingga banyak yang menolak hasil karyanya. Ayolah, ia hanya ingin popular dikalangan para pembaca.

“Karyaku ini sangat bagus, hanya mereka saja yang tidak tau apa yang disebut dengan seni!” umpatnya sambil menggenggam map tersebut dengan erat.

SYUUUTTTTTT..

Alisnya terangkat keatas ketika melihat sebuah surat berukuran kecil terjatuh dari dalam map tersebut, diambilnya surat tersebut lalu menimang-nimangnya. ‘Kira-kira isinya apa, ya?’ pikirnya.

Dengan mimik penasaran Camelle membuka surat berwarna hijau Tosca tersebut dan membaca isinya:

To : Camelle Vincent.

    Menurutku novel buatanmu itu buruk sekali . Yeah, aku tahu kau ingin menjadi novelis hanya karena popularitas saja. Kau menyedihkan.

Penerbit

Alffario Davison.

“Apa-apaan ini! Berani sekali orang itu menghinaku!” pekikknya. Dilemparkannya surat itu ke lantai lalu dengan kejamnya Camelle meninjak-injak surat tersebut. “Aku akan mendatangi penerbit kurang ajar itu besok.”


“Maaf nona, saat ini tuan Davison sedang tidak bisa diganggu. Anda bisa menemuinya lain waktu.”

“Tidak. Minggir kalian! Aku ingin berbicara face to face pada lelaki kurang aj–maksudku Alffario itu!” kata Camelle dengan suara yang lantang sehingga membuat orang-orang yang berada di tempat itu memasang raut terkejut bercampur heran.

“Maafkan kami nona, tapi tuan Davison benar-benar tidak bisa digang–aahh!” petugas itu terpekik kaget saat tiba-tiba Camelle menerobos masuk ke dalam ruangan tempat kerja lelaki yang bernama Alffario Davison tersebut.

Diperhatikannya keadaan ruangan tersebut dengan seksama. Hm.. Ruangan ini lumayan juga. Rapih dan bersih, orang yang tinggal diruangan ini sepertinya sangat menjaga ruang kerjanya agar tetap selalu­–wow! Begitulah.

Dan kemudian matanya menyipit tidak suka saat melihat lelaki yang sedari tadi sangat ingin ia temui itu sedang duduk santai dikursi kerjanya dan memasang wajah stay cool andalannya.

Jika dilihat-lihat, penampilan lelaki itu lumayan stylish dan mungkin lelaki ini seumuran dengannya. Wow, bola mata lelaki itu berwarna hazel dan garis matanya menikuk tajam bagai elang, benar-benar mata yang indah, kelam. Dan lelaki ini juga mempunyai bibir yang­–Eh! benda apa yang menutupi bibir pria itu? Hah! itu–masker, eh?

“Kenapa kau memakai masker?” Tanya Camelle spontan. Kalau saja laki-laki ini membuka maskernya, Camelle berani bertaruh kalau dia mempunyai wajah yang tampan.

“Aku sedang terkena flu. Dan kau siapa?”

“Aku Cam–HAH! Kau pasti orang yang mengirimiku surat sial itu ya, heh?!” bentak Camelle yang telah sadar dari lamunannya. ‘Bodoh! Bisa-bisanya aku terpesona dengan orang ini.’ batinnya.

“Oh, jadi kau yang bernama Camelle Vincent, eh?” Tanya laki-laki yang sedang duduk santai di kursi dengan sinis. Raut wajahnya seolah-olah mengatakan kalau dia meremehkan gadis yang berada di depannya.

“Apa maumu hah? Jelaskan padaku untuk apa kau menulis surat seperti itu?” bukannya menjawab pertanyaan lelaki itu Camelle malah balik bertanya dengan nada yang menantang.

“Hn, aku benar kan? Kau hanya ingin popular dikalangan para pembaca.”

“Ti.. Tidak!”

“Jelas sekali.” balas lelaki itu. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Camelle yang berdiri kaku. Camelle menahan napas saat wajah laki-laki yang menurutnya menyebalkan itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

“Sebelum kau mengerti arti sebuah karya jangan harap kau bisa menjadi novelis yang keren.” bisik lelaki itu tepat di telingannya. “Kau hanya akan menjadi pecundang.” bisiknya lagi dengan suara yang pelan.

“Ka.. Ka.. Kau! A.. Aku pasti bisa menjadi seorang novelis yang keren lihat saja nanti Alffario Davison.” bentak Camelle kepada orang yang bernama Alffario itu. Setelahnya, Camelle berjalan kearah pintu dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu tersebut.

Lelaki bernama Alffario Davison itu menyeringai, “Hn. Lihat saja nanti.” bisiknya sambil melepas masker yang menutupi setengah wajahnya tadi. “Hoam, hari yang melelahkan.” Gumamnya sambil menyenderkan punggungnya di kepala senderan kursi. Menutup mata dan mulai terlelap.


Camelle kini berada di dalam kamarnya, duduk diatas ranjang yang nyaman sambil membaca naskah-naskah yang ia buat. Mengecek apakah ada yang aneh pada hasil karyanya.

Dia berpikir untuk sekian kalinya, apa yang salah dari cerita yang ia buat?. Naskahnya berceritakan tentang seorang penyihir terakhir yang masih tersisa yang membenci seorang pangeran kerajaan. Desa itu terkena kutukan. Yaitu musim kemarau yang panjang tanpa akhir.

Rakyat banyak yang mati kehausan karena musim kemarau yang tak pernah berakhir. Tak hanya rakyat, hewan dan tumbuhan pun mulai musnah dengan perlahan. Hanya ada satu cara agar negeri itu terbebas dari kutukan, Yaitu jika sang pangeran dan penyihir bersatu.

Tapi, sayangnya sang penyihir lebih memilih mati daripada mencintai pangeran. Dan negeri tersebut luluh lantak, hancur–beserta sang pangeran, Dan tamat. Sebuah cerita yang sad ending memang.

“HAH…” Camelle menghela napas. Sepertinya dia memang tidak berbakat untuk membuat sebuah karya. Ia jadi mengingat dimana dulu, almarhum kedua orang tuanya selalu memuji karya yang ia buat. Yeah ia yatim-piatu sekarang.

Camelle bangkit dari tempat tidurnya dengan naskah yang tergenggam di tangannya, lalu ia menuju tempat sampah yang berada di sudut kamar DING–DONG ia melempar naskah tersebut ke dalam tempat sampah. Lalu berjalan kembali ke ranjangnya dan merebahkan diri di sana.

Tck.. ini adalah hari yang melelahkan. Ia benci hari ini dan bulan ini. Yeah, dia memang selalu membenci bulan Mei, yang menurutnya adalah bulan kesialannya. Dia membenci apapun yang behubungan dengan bulan ini–

–bahkan Musim Semi-nya.

Ia benci Musim Semi, sangat benci. Karna di musim semi ia kehilangan orang tuanya untuk selamanya. Baginya musim yang sangat indah adalah musim Kemarau. Yeah Fall. Hoam.. rasa kantuk mulai menyerangnya, dan perlahan tapi pasti Camelle mulai kehilangan kesadarannya.


“KLONTANGGG”

“Geese, apa yang kau lakukan? Dia bisa bangun.”

“Maaf Ell, aku tidak sengaja menjatuhkanya.”

“Hey kalian, Pangeran sedang menuju kemari.”

Camelle yang mendengar ada keributan disekitarnya, perlahan mulai terjaga. “Ah.. nyamannya habis tidur.” gumamnya sambil membuka kedua mata Emerald-nya perlahan dan…

Hening ...

Hening ...

Masih hening ...

“HHHHUUUUUWWWAAAAA!!!”

Teriakkannya terdengar ke penjuru istana. “Dimana ini?” Cicitnya. “Aku dimana? Dimana? Kalian siapa?!” pekiknya kalang kabut saat dia menyadari kalau dia tidak sedang berada didalam kamarnya.

“Tenang nona penyihir, anda sedang berada di Istana Aqquare Aster, pangeran akan segera datang ke sini.” ucap salah satu pelayan, berusaha menenangkan Camelle.

“Apa maksud kalian? Penyihir? Pangeran? Istana Aqquare Aster? Aku tidak menge–TUNGGU!!” pekiknya tiba-tiba lagi. Tunggu sepertinya dia ingat sesuatu. Ah iya, Istana ini, para pelayan ini.. Ia mengingatnya, Camelle mengingatnya!

Sangat mengingatnya..

Ini persis seperti semua yang berada di dalam novel buatanya, Sangat persis. Dan yang paling ia tidak dapat percaya adalah­–

­–Ia berada di dalam novel yang ia buat sendiri.

“Nona penyihir, Pangeran sedang menuju kesini.” tutur salah satu pelayan yang berada di depannya. “Pangeran pasti senang jika bertemu dengan gadis secantik nona penyihir.” imbuhnya lagi.

Tadi pelayan itu menyebut pangeran? Hm, berarti Camelle yang menjadi penyihirnya, ya. Camelle bingung. Sebenarnya ada apa ini, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi sekarang.

“Nona penyihir apakah anda mendengar saya?, pangeran sedang menuju kemari” ulang sang pelayan.

“Pangeran?” Ia ingat, pangeran yang dimaksud pelayan tadi adalah pangeran tampan yang ada di dalam naskah yang ia buat. Pangeran yang berambut pirang rapih dan bermata sapphire indah dan bersinar, iya kan?

KREEEEKKK –suara pintu yang perlahan terbuka.

“Kau sudah sadar, eh?” ucap seseorang yang baru saja membuka pintu megah itu. Camelle mengadahkan wajahnya untuk melihat pangeran yang berada selangkah didepannya. Dan matanya terbelalak seketika.

Astaga.. Pangeran yang satu ini sangat berbeda dari yang ada di dalam novel, sangat berbeda. Rambutnya berwarna Dark Red, wajah tirus, badan Atletis, tampan, dan matanya berwarna Hazel kel–Tunggu sebentar, sepertinya ia kenal mata itu, mata itu.. mata itu.. ia kenal mata itu entah dimana. Mata tajam itu..

“hei jelek. Sedang apa kau melamun disitu. Seperti orang bodoh saja.” bahkan suaranya saja terdengar begitu familiar, suaranya mirip seperti Alffario yang brengsek itu.

‘APA? ALFFARIO?’ gumam Camelle dalam hati. Tidak mungkin, pangeran ini sangat tampan tidak mungkin kalau dia itu cowok–freak–brengsek–bermasker–Alffario. Sial, tapi dia mulai menjadi semakin mirip dengan cowok–freak–brengsek–bermasker–Alffario itu. Dan Camelle harus memastikannya.

“Hei pangeran.”

“Apa gadis bodoh?”

“Namaku Camelle Vincent dan berhenti memanggilku bodoh!”

“Terserah.”

“Pangeran, boleh aku bertanya?”

“Hn.”

“Siapa namamu? Kalau boleh aku tahu.”

“Namaku.. –Alffario Davison. Kau cukup memanggilku Alffa.”

Camelle menahan napas saat sang pangeran memperkenalkan dirinya. Ya Tuhan! Pangeran ini benar-benar si Alffario sialan itu. Tidak! Ini semua hanya mimpi, pasti hanya mimpi. Dan ia akan bangun sebentar lagi. Semoga saja..

Sepertinya hari ini banyak sekali kejadian diluar logikanya, berada di negeri antah berantah, pangeran bernama Alffario dan dirinya yang menjadi penyihir. “Jika ini mimpi.. siapa saja.. tolong.. bangunkan aku.” Bisiknya lirih.

Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, bukan hanya kepalanya saja, seluruh tubuhnya sakit, pikirannya juga sakit. Dan sekarang gadis itu kembali kehilangan kesadarannya–dalam arti yang lain.

Ia pingsan–

–di dalam pelukan sang pangeran.


.
.
.
.

TO BE CONTINUED

CHAPTER ONE END


Light is one choice…

Darknessis the other…




VM Dark Shadow
(10-11-2011)