Spring for Novel
Disclaimer :
Spring for Novel © VM Dark Shadow
Rated : Teen
Chapter 2 : When I Look at You
Warning : OC, Gaje, EYD berantakan, Typo
Summary : Di bulan Februari, Valentine. bulan Desember, Natal. bulan Oktober, Halloween. bulan Maret, White Day. Sedangkan Di bulan Mei ada apa? Hey jangan lupa dibulan Mei ada Festival dan Musim Semi. “Oh.. musim semi ya–sepertinya menyenangkan.”
Enjoy it
.
.
.
Bulan Mei–bagi banyak orang–adalah bulan yang panjang. tidak ada hal yang mencolok dari bulan ini, sebenarnya. Hanya saja dibulan ini kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyebalkan, seperti ulangan semester dan lembur kerja. Oh dan jangan lupa dengan Musim Semi-nya.
Ah.. iya, musim semi. mana ada orang yang membenci musim semi, kau tahu kan musim semi itu damai, indah dan–hey! Kita akan menceritakan kisah seseorang, kau tahu? Bukan–Musim–Semi.
Oke cukup, Lupakan tentang bulan Mei atau pun Musim Semi. Yep, kita akan menceritakan tentang seorang gadis dengan seorang lelaki dan juga musim semi mereka…
-Spring for Novel-
Seorang lelaki berparas rupawan bernama Alffario Davison tengah duduk di kursi yang terlihat mewah, membaca buku lusuh yang tebal. Tidak, ia tidak membaca buku itu. Ia hanya membolak-balik halaman demi halaman buku tersebut dengan asal. Pikirannya melayang ke peristiwa yang telah lalu.
Ia tidak percaya, tiba-tiba saja ia berada di tempat yang asing. Dunia yang asing, ini bukan dunianya. Dunia di tempat ia seharusnya berada bukan di sini dan tidak seperti ini.
Ia bingung dan merasa dipermainkan. Alffa ingat betul kalau waktu itu dia sedang berada di ruang kerjanya yang nyaman sambil memejamkan mata menikmati keheningan di ruangan itu dan tertidur. Lalu tiba-tiba saja ketika ia bangun, ia sudah berada di tempat seperti ini. bukan di ruang kerjanya.
Apakah ia hanya bermimpi? Ketika ia bangun, ia sudah berada di dalam kamar megah nan mewah. Dan yang lebih anehnya lagi, semua pelayan memanggilnya dengan sebutan ‘Pangeran’. Ayolah, yang benar saja.
Alffa masih terlalu waras untuk beranggapan kalau kejadian ini adalah sebuah kenyataan. Ini hanya bunga tidur, “Ini hanya mimpi Alffa! Tenanglah.” gumamnya pada diri sendiri. Tapi, sejak kapan mimpi bisa senyata ini.
Otak cerdasnya berpikir keras dan sampai pada akhirnya ia memvonis dirinya sendiri kalau ia–seorang Alffario Davison telah mengalami gangguan kejiwaan. HORE! Orang-orang yang membencinya pasti girang jika mengetahui kalau si–mulut–tajam–Alffario menjadi gila.
Tapi–hey, dari pada tidak mempercayai apa yang telah terjadi, lebih baik pura-pura percaya saja, bukan?. Anggap saja ini sebuah permainan. kau–Alffa berperan menjadi pangerannya. Hanya main-main, Kau suka bermain-main, kan Alffa?. Ini akan menjadi sangat menarik.
“Tck, baiklah. Tidak buruk juga.” Alffa akhirnya memutuskan. Diletakannya buku tebal lusuh itu dengan asal. Bola matanya yang bewarna Hazel gelap itu melirik gadis yang tengah tertidur lelap di sampingnya.
Gadis ini benar-benar merepotkan. Alffa menemukan gadis ini tengah pingsan di halaman kerajaan dan membawanya masuk ke dalam istana, dan sekarang ia kembali pingsan saat Alffa sedang memperkenalkan dirinya sendiri.
“Gadis ini kenapa suka sekali pingsan sih, merepotkan saja.” Geramnya, untung saja Alffa masih mempunyai sifat pri kemanusiaan–walaupun sedikit. Sejujurnya alffa benci tipe gadis merepotkan seperti dia. Tapi yah.. mau bagaimana lagi.
“Bersyukurlah kau, aku masih punya hati nurani.” Gumamnya pada gadis yang sedang tertidur tersebut. Hey! Alffa menyadari sesuatu, gadis ini mirip sekali dengan si Camelle bodoh itu. Ah benar, tadi juga gadis ini memperkenalkan dirinya sebagai Camelle Vincent. Ternyata dia benar-benar si bodoh Camelle.
Alffa mulai mengerti sekarang. Mereka –Allfa dan Camelle– terjebak bersama di negeri antah berantah ini. Kalian dengar? Bersama. Lebih tepatnya berdua. Biar ku eja BER-DU-A!
"INI GILA!!" Geram Alffa frustasi.
Wah-wah sepertinya kalian berjodoh. Tapi, jika Alffa menjadi pangerannya berarti Camelle yang menjadi penyihirnya. Lagi pula tadi para pelayan memanggil Camelle dengan sebutan ‘Nona penyihir’ kan. Tak salah lagi.
“Ughhhh..” Sebuah erangan menyadarkan Allfa dari lamunannya. Dengan gerakan cepat Allfa berjalan menuju ranjang tempat Camelle berada. “Kau sudah sadar?” tanyanya pelan.
“Apakah aku sekarang sedang berada di surga?” bisik gadis bernama Camelle itu dengan pelan, tapi Alffa masih dapat mendengarnya.
“HAHAHAHA.. B-O-D-O-H!” Sontak Alffa tertawa saat mendengar gurauan gadis itu, “Apa katamu tadi? Surga? Dasar tolol.” Tambahnya lagi. Dia heran, ternyata ada ya, orang sebodoh itu di dunia ini? Ada-ada saja gadis ini.
Camelle yang menyadari kalau ia sedang ditertawakan itu menggembungkan pipinya dengan kesal. Sial, ia menyesal telah mengatakan kata-kata itu tadi. Tadinya ia berpikir kalau ia sudah mati. Dan ketika membuka matanya, ia melihat pemuda tampan berada di sampingnnya.
Jadi, bukan salahnya kan kalau ia merasa berada di surga. Lagi pula mana ada pemuda tampan di dalam neraka. Dia pikir pemuda itu adalah malaikat pelindung yang akan menuntunnya menuju surga.
Tapi ternyata pemuda itu adalah–ughh ia tak mau menyebut nama pemuda menyebalkan itu. “Sudah. Berhentilah tertawa! kenapa Kau suka sekali sih menertawakan orang lain, menyebalkan!” gerutunya.
“Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menertawai kebodohanmu.” ucap Alffa disela-sela tawanya. “Kau bodoh sekali.” bisa-bisanya dia berpikir kalau ia berada di surga. Gadis yang polos atau mungkin terlalu bodoh, hahaha lucu sekali. pikirnya.
“bersyukurlah kau, untung wajahmu tampan. Kalau tidak orang-orang pasti sudah mengenyahkanmu dari dulu.” Cemooh Camelle.
“Hn. Berarti aku ini tampan, eh?”
“Tidak! Kata siapa?”
“Barusan, kau sendiri yang bilang aku tampan.”
“A… Akk.. Aku salah bicara, k-kau jangan besar kepala ya!” ucap Camelle gelagapan. Wajahnya terasa panas. Ia berani bertaruh kalau wajahnya sekarang sudah semerah buah tomat.
“Wow. Wajahmu merah sekali.” Alffa menyeringai setelahnya. “Jujur saja padaku, Kau tertarik padaku kan?” goda Alffa kepada Camelle. Didekatkannya wajahnya ke wajah Camelle hingga berjarak sekitar lima atau enam senti dari wajahnya.
OH MY GOD! Ini sangat dekat, ini sangat dekat. Camelle merasakan kalau tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Sial! Sial! Sial! Kalau begini ketahuan sudah kalau Camelle menaruh rasa pada pemuda di depannya.
Pemuda yang sedang menatapnya dengan tajam. Dari matanya tersirat kalau pemuda ini mempunyai sifat sombong dan angkuh. Tapi Camelle suka dengan bola mata pemuda itu. Berbeda dengan mata-mata yang lain, mata yang ini kelam, dan sosoknya yang sempurna seperti Casanova.
Alffa mengamati ekspresi gadis yang di hadapannya sambil menyeringai.
‘Kena kau!’ ucapnya dalam hati. Tentu saja, pemuda ini memang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Ia yakin kalau semua wanita akan terpesona dengan semua keelokan yang ia punya. Termasuk gadis yang berada di hadapannya.
DEEEEEGGGGGGG!!
Tiba-tiba saja Alffa tercengang saat melihat mata gadis di depannya. Alffa tidak tahu kalau ada mata seindah ini di dunia. Mata yang sangat menawan, mata itu sewarna dengan batu Emerald. Yeah. Emerald adalah batu yang sangat disukai oleh Dewi Veus dan Ratu Cleopatra. Dan gadis itu memilikinya. Di bola matanya.
DEG …
DEG …
DEG …
Kini giliran Alffa yang merasakan kalau tubuhnya kaku. Perutnya terasa tergelitik, ia merasa ada banyak Cupid-Cupid di dalam perutnya sedang menari-nari bahagia. Oh tidak! Sekarang ia merasa kalau sang Cupid kini berada di dalam dadanya yang membuat napasnya menjadi tidak karuan dan jantungnya berdebar-debar kencang.
Ternyata hanya dengan menatap gadis berparas bagaikan Cleopatra di depannya saja sudah memacu adrenalin-nya naik. Ia merasa keringat dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya. SIAL! Ia harus menghentikan ini segera, jika tidak ia akan merasa kalah dari gadis ini. Harus dihentikan. HARUS!
Dengan cepat Alffa menarik tubuhnya menjauh dari Cemelle. Camelle bingung dengan tindakan Alffa yang tiba-tiba, ‘Ada apa sih dengan cowok ini? Dasar abnormal’ batinnya. Sebenarnya Camelle sedikit merasa–kecewa– ketika Allfa menjauhkan diri darinya, entah kenapa.
“Kau kenapa?” Camelle memberanikan diri untuk bertanya.
“Tak apa.”
“Wajahmu pucat. Apakah kau sakit?”
“Aku baik-baik saja.”
“Tapi–”
“Sudah kubilang aku baik-baik saja!!” bentaknya. Camelle sangat terkejut ketika Allfa membentaknya. Alffa sendiri tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan, Kepalanya terasa sakit. ‘Tak berguna!’ amuknya dalam hati. Brengsek. Otak cerdasnya tidak bisa berpikir sedikitpun.
Dilain sisi dia merasa bersalah karena telah membentak Camelle. Sungguh ia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya kesal kepada dirinya sendiri yang tak bisa mengontrol emosinya saat berhadapan dengan gadis ini. Ia merasa aneh. Hello, seumur hidupnya ia tak pernah merasa sekacau ini. Ia adalah Casanova. Gadis manapun akan tahluk dihadapannya. Tapi kenapa..
“Sebaiknya kita harus berjaga jarak”
“Memangnya kenapa?”
“Apa kau lupa, aku pangeran dan kau penyihir. Dan kita sedang berada di dalam novel yang kau buat yang dimana–” Alffa menarik napas panjang dan berhenti sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
“–Yang dimana Pangeran dan penyihir tidak dapat bersatu.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alffa berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan tempat Camelle berada.
Camelle memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya bisa terasa begitu sakit. Yang ia tahu, dadanya mulai terasa sakit saat Alffa mengatakan kalimat ‘Tidak dapat bersatu’.
Dan untuk yang pertama kalinya dalam hidupnya, ia–Camelle Vincent membenci karya yang ia buat sendiri. Karena di dalam novel yang ia buat, Pangeran dan penyihir tak akan pernah bersatu … Selamanya.
…
Alffa berjalan pelan. Menjelajahi seluk beluk Istana Aqquare Aster yang luas dan megah. Matanya yang biasanya tajam dan suka memandang rendah orang lain kini terlihat sedikit sendu. Pikiranya berkeliaran meninggalkan raganya.
Kejadian beberapa jam yang lalu, ia masih mengingatnya dengan jelas. Dimana pertamakali dalam hidupnya ia terpesona pada seorang wanita. Sial, kalau begini jadinya, ia tak akan bisa bermain-main dengan gadis itu.
Apakah ia telah jatuh cinta? TIDAK MUNGKIN! Tak mungkin orang yang suka bermain-main seperti Alffa jatuh cinta. Hahaha jangan membuatku tertawa. Walaupun Alffa jatuh cinta, harus gadis itu yang lebih dulu menyatakan perasaan kepadanya. Hah, harga diri seorang Alffario Davison memang sangat tinggi.
Yeah, sudah ditetapkan. Sebelum gadis itu mengatakan perasaannya kepada Alffa, Alffa tidak akan jatuh hati kepada gadis itu. Ia tak akan jatuh cinta kepada gadis itu.
Hn, yah.. kita lihat saja nanti Alffa. Tapi sepertinya sang Pangeran–Alffario mulai tertarik kepada sang Penyihir–Camelle.
Dan Casanova sepertinya mulai tahluk oleh Cleopatra …
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
CHAPTER TWO END
Light is one choice…
Darknessis the other…
VM Dark Shadow
(14-11-2011)