Disclaimer :
Spring for Novel © VM Dark Shadow
Rated : Teen
Chapter 1 : Meet You in Spring
Warning : OC, Gaje, EYD berantakan, Typo
Summary : Di bulan Februari, Valentine. bulan Desember, Natal. bulan Oktober, Halloween. bulan Maret, White Day. Sedangkan Di bulan Mei ada apa? Hey jangan lupa dibulan Mei ada festival dan Musim Semi. “Oh.. musim semi ya–sepertinya menyenangkan.”
Enjoy it
.
.
.
Bulan Mei–bagi banyak orang–adalah bulan yang panjang. tidak ada hal yang mencolok dari bulan ini, sebenarnya. Hanya saja dibulan ini kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menyebalkan, seperti ulangan semester dan lembur kerja. Oh dan jangan lupa dengan Musim Semi-nya.
Ah.. iya, musim semi. mana ada orang yang membenci musim semi, kau tahu kan musim semi itu damai, indah dan–hey! Kita akan menceritakan kisah seseorang, kau tahu? Bukan–Musim–Semi.
Oke cukup, Lupakan tentang bulan Mei atau pun Musim Semi. Yep, kita akan menceritakan tentang seorang gadis dengan seorang lelaki dan juga musim semi mereka…
-Spring for Novel-
Seorang gadis duduk di bingkai jendela. Rambut pirang sebahunya melambai-lambai tersapu angin. Tangan mungilnya memegang sebuah map coklat yang didapatnya dari petugas pengantar surat. Sungguh, perasaannya jadi tidak enak saat melihat siapa pengirim map coklat tersebut.
Dilihatnya isi map tersebut dengan dahi yang berkerut dan mulai membacanya. Tiba-tiba saja iris mata berwarna Emerald–itu terbelalak lebar.
“Maaf, kami menolak naskah yang telah anda kirimkan kepada kam–hey!! Apa maksudnya ini? Tck.. Sial!” geram Camelle Vincent–nama gadis itu.
Sial! Selalu saja seperti ini, naskah buatannya selalu saja ditolak oleh para penerbit. Memangnya apa kekurangan dari naskah yang ia buat sehingga banyak yang menolak hasil karyanya. Ayolah, ia hanya ingin popular dikalangan para pembaca.
“Karyaku ini sangat bagus, hanya mereka saja yang tidak tau apa yang disebut dengan seni!” umpatnya sambil menggenggam map tersebut dengan erat.
SYUUUTTTTTT..
Alisnya terangkat keatas ketika melihat sebuah surat berukuran kecil terjatuh dari dalam map tersebut, diambilnya surat tersebut lalu menimang-nimangnya. ‘Kira-kira isinya apa, ya?’ pikirnya.
Dengan mimik penasaran Camelle membuka surat berwarna hijau Tosca tersebut dan membaca isinya:
To : Camelle Vincent.
Menurutku novel buatanmu itu buruk sekali . Yeah, aku tahu kau ingin menjadi novelis hanya karena popularitas saja. Kau menyedihkan.
Penerbit
Alffario Davison.
“Apa-apaan ini! Berani sekali orang itu menghinaku!” pekikknya. Dilemparkannya surat itu ke lantai lalu dengan kejamnya Camelle meninjak-injak surat tersebut. “Aku akan mendatangi penerbit kurang ajar itu besok.”
…
“Maaf nona, saat ini tuan Davison sedang tidak bisa diganggu. Anda bisa menemuinya lain waktu.”
“Tidak. Minggir kalian! Aku ingin berbicara face to face pada lelaki kurang aj–maksudku Alffario itu!” kata Camelle dengan suara yang lantang sehingga membuat orang-orang yang berada di tempat itu memasang raut terkejut bercampur heran.
“Maafkan kami nona, tapi tuan Davison benar-benar tidak bisa digang–aahh!” petugas itu terpekik kaget saat tiba-tiba Camelle menerobos masuk ke dalam ruangan tempat kerja lelaki yang bernama Alffario Davison tersebut.
Diperhatikannya keadaan ruangan tersebut dengan seksama. Hm.. Ruangan ini lumayan juga. Rapih dan bersih, orang yang tinggal diruangan ini sepertinya sangat menjaga ruang kerjanya agar tetap selalu–wow! Begitulah.
Dan kemudian matanya menyipit tidak suka saat melihat lelaki yang sedari tadi sangat ingin ia temui itu sedang duduk santai dikursi kerjanya dan memasang wajah stay cool andalannya.
Jika dilihat-lihat, penampilan lelaki itu lumayan stylish dan mungkin lelaki ini seumuran dengannya. Wow, bola mata lelaki itu berwarna hazel dan garis matanya menikuk tajam bagai elang, benar-benar mata yang indah, kelam. Dan lelaki ini juga mempunyai bibir yang–Eh! benda apa yang menutupi bibir pria itu? Hah! itu–masker, eh?
“Kenapa kau memakai masker?” Tanya Camelle spontan. Kalau saja laki-laki ini membuka maskernya, Camelle berani bertaruh kalau dia mempunyai wajah yang tampan.
“Aku sedang terkena flu. Dan kau siapa?”
“Aku Cam–HAH! Kau pasti orang yang mengirimiku surat sial itu ya, heh?!” bentak Camelle yang telah sadar dari lamunannya. ‘Bodoh! Bisa-bisanya aku terpesona dengan orang ini.’ batinnya.
“Oh, jadi kau yang bernama Camelle Vincent, eh?” Tanya laki-laki yang sedang duduk santai di kursi dengan sinis. Raut wajahnya seolah-olah mengatakan kalau dia meremehkan gadis yang berada di depannya.
“Apa maumu hah? Jelaskan padaku untuk apa kau menulis surat seperti itu?” bukannya menjawab pertanyaan lelaki itu Camelle malah balik bertanya dengan nada yang menantang.
“Hn, aku benar kan? Kau hanya ingin popular dikalangan para pembaca.”
“Ti.. Tidak!”
“Jelas sekali.” balas lelaki itu. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Camelle yang berdiri kaku. Camelle menahan napas saat wajah laki-laki yang menurutnya menyebalkan itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Sebelum kau mengerti arti sebuah karya jangan harap kau bisa menjadi novelis yang keren.” bisik lelaki itu tepat di telingannya. “Kau hanya akan menjadi pecundang.” bisiknya lagi dengan suara yang pelan.
“Ka.. Ka.. Kau! A.. Aku pasti bisa menjadi seorang novelis yang keren lihat saja nanti Alffario Davison.” bentak Camelle kepada orang yang bernama Alffario itu. Setelahnya, Camelle berjalan kearah pintu dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu tersebut.
Lelaki bernama Alffario Davison itu menyeringai, “Hn. Lihat saja nanti.” bisiknya sambil melepas masker yang menutupi setengah wajahnya tadi. “Hoam, hari yang melelahkan.” Gumamnya sambil menyenderkan punggungnya di kepala senderan kursi. Menutup mata dan mulai terlelap.
…
Camelle kini berada di dalam kamarnya, duduk diatas ranjang yang nyaman sambil membaca naskah-naskah yang ia buat. Mengecek apakah ada yang aneh pada hasil karyanya.
Dia berpikir untuk sekian kalinya, apa yang salah dari cerita yang ia buat?. Naskahnya berceritakan tentang seorang penyihir terakhir yang masih tersisa yang membenci seorang pangeran kerajaan. Desa itu terkena kutukan. Yaitu musim kemarau yang panjang tanpa akhir.
Rakyat banyak yang mati kehausan karena musim kemarau yang tak pernah berakhir. Tak hanya rakyat, hewan dan tumbuhan pun mulai musnah dengan perlahan. Hanya ada satu cara agar negeri itu terbebas dari kutukan, Yaitu jika sang pangeran dan penyihir bersatu.
Tapi, sayangnya sang penyihir lebih memilih mati daripada mencintai pangeran. Dan negeri tersebut luluh lantak, hancur–beserta sang pangeran, Dan tamat. Sebuah cerita yang sad ending memang.
“HAH…” Camelle menghela napas. Sepertinya dia memang tidak berbakat untuk membuat sebuah karya. Ia jadi mengingat dimana dulu, almarhum kedua orang tuanya selalu memuji karya yang ia buat. Yeah ia yatim-piatu sekarang.
Camelle bangkit dari tempat tidurnya dengan naskah yang tergenggam di tangannya, lalu ia menuju tempat sampah yang berada di sudut kamar DING–DONG ia melempar naskah tersebut ke dalam tempat sampah. Lalu berjalan kembali ke ranjangnya dan merebahkan diri di sana.
Tck.. ini adalah hari yang melelahkan. Ia benci hari ini dan bulan ini. Yeah, dia memang selalu membenci bulan Mei, yang menurutnya adalah bulan kesialannya. Dia membenci apapun yang behubungan dengan bulan ini–
–bahkan Musim Semi-nya.
Ia benci Musim Semi, sangat benci. Karna di musim semi ia kehilangan orang tuanya untuk selamanya. Baginya musim yang sangat indah adalah musim Kemarau. Yeah Fall. Hoam.. rasa kantuk mulai menyerangnya, dan perlahan tapi pasti Camelle mulai kehilangan kesadarannya.
…
“KLONTANGGG”
“Geese, apa yang kau lakukan? Dia bisa bangun.”
“Maaf Ell, aku tidak sengaja menjatuhkanya.”
“Hey kalian, Pangeran sedang menuju kemari.”
Camelle yang mendengar ada keributan disekitarnya, perlahan mulai terjaga. “Ah.. nyamannya habis tidur.” gumamnya sambil membuka kedua mata Emerald-nya perlahan dan…
Hening ...
Hening ...
Masih hening ...
“HHHHUUUUUWWWAAAAA!!!”
Teriakkannya terdengar ke penjuru istana. “Dimana ini?” Cicitnya. “Aku dimana? Dimana? Kalian siapa?!” pekiknya kalang kabut saat dia menyadari kalau dia tidak sedang berada didalam kamarnya.
“Tenang nona penyihir, anda sedang berada di Istana Aqquare Aster, pangeran akan segera datang ke sini.” ucap salah satu pelayan, berusaha menenangkan Camelle.
“Apa maksud kalian? Penyihir? Pangeran? Istana Aqquare Aster? Aku tidak menge–TUNGGU!!” pekiknya tiba-tiba lagi. Tunggu sepertinya dia ingat sesuatu. Ah iya, Istana ini, para pelayan ini.. Ia mengingatnya, Camelle mengingatnya!
Sangat mengingatnya..
Ini persis seperti semua yang berada di dalam novel buatanya, Sangat persis. Dan yang paling ia tidak dapat percaya adalah–
–Ia berada di dalam novel yang ia buat sendiri.
“Nona penyihir, Pangeran sedang menuju kesini.” tutur salah satu pelayan yang berada di depannya. “Pangeran pasti senang jika bertemu dengan gadis secantik nona penyihir.” imbuhnya lagi.
Tadi pelayan itu menyebut pangeran? Hm, berarti Camelle yang menjadi penyihirnya, ya. Camelle bingung. Sebenarnya ada apa ini, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi sekarang.
“Nona penyihir apakah anda mendengar saya?, pangeran sedang menuju kemari” ulang sang pelayan.
“Pangeran?” Ia ingat, pangeran yang dimaksud pelayan tadi adalah pangeran tampan yang ada di dalam naskah yang ia buat. Pangeran yang berambut pirang rapih dan bermata sapphire indah dan bersinar, iya kan?
KREEEEKKK –suara pintu yang perlahan terbuka.
“Kau sudah sadar, eh?” ucap seseorang yang baru saja membuka pintu megah itu. Camelle mengadahkan wajahnya untuk melihat pangeran yang berada selangkah didepannya. Dan matanya terbelalak seketika.
Astaga.. Pangeran yang satu ini sangat berbeda dari yang ada di dalam novel, sangat berbeda. Rambutnya berwarna Dark Red, wajah tirus, badan Atletis, tampan, dan matanya berwarna Hazel kel–Tunggu sebentar, sepertinya ia kenal mata itu, mata itu.. mata itu.. ia kenal mata itu entah dimana. Mata tajam itu..
“hei jelek. Sedang apa kau melamun disitu. Seperti orang bodoh saja.” bahkan suaranya saja terdengar begitu familiar, suaranya mirip seperti Alffario yang brengsek itu.
‘APA? ALFFARIO?’ gumam Camelle dalam hati. Tidak mungkin, pangeran ini sangat tampan tidak mungkin kalau dia itu cowok–freak–brengsek–bermasker–Alffario. Sial, tapi dia mulai menjadi semakin mirip dengan cowok–freak–brengsek–bermasker–Alffario itu. Dan Camelle harus memastikannya.
“Hei pangeran.”
“Apa gadis bodoh?”
“Namaku Camelle Vincent dan berhenti memanggilku bodoh!”
“Terserah.”
“Pangeran, boleh aku bertanya?”
“Hn.”
“Siapa namamu? Kalau boleh aku tahu.”
“Namaku.. –Alffario Davison. Kau cukup memanggilku Alffa.”
Camelle menahan napas saat sang pangeran memperkenalkan dirinya. Ya Tuhan! Pangeran ini benar-benar si Alffario sialan itu. Tidak! Ini semua hanya mimpi, pasti hanya mimpi. Dan ia akan bangun sebentar lagi. Semoga saja..
Sepertinya hari ini banyak sekali kejadian diluar logikanya, berada di negeri antah berantah, pangeran bernama Alffario dan dirinya yang menjadi penyihir. “Jika ini mimpi.. siapa saja.. tolong.. bangunkan aku.” Bisiknya lirih.
Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit, bukan hanya kepalanya saja, seluruh tubuhnya sakit, pikirannya juga sakit. Dan sekarang gadis itu kembali kehilangan kesadarannya–dalam arti yang lain.
Ia pingsan–
–di dalam pelukan sang pangeran.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
CHAPTER ONE END
Light is one choice…
Darknessis the other…
VM Dark Shadow
(10-11-2011)